Operasi di Somalia: Salah Satu Misi Penting Garibaldi
Salah satu operasi awal penting Giuseppe Garibaldi terjadi di Somalia.
Pada 1994, kapal tersebut terlibat dalam Operation Restore Hope untuk mendukung operasi amfibi dan proses penarikan kontingen Italia dari Somalia.
Marina Militare mencatat bahwa Giuseppe Garibaldi bersama sejumlah kapal perang Italia berangkat menuju Somalia pada Februari 1994 dalam rangka operasi IBIS II. Gugus tugas tersebut memiliki tugas membantu kepulangan kontingen Italia yang terlibat dalam misi internasional di Somalia.
Pada 1995, kapal kembali terlibat dalam operasi yang berhubungan dengan misi UNOSOM di Somalia.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa Garibaldi sejak awal tidak hanya dipersiapkan untuk perang konvensional, tetapi juga operasi gabungan dan internasional.
Misi di Laut Adriatik dan Krisis Yugoslavia
Pada 1999, Giuseppe Garibaldi kembali menjalankan tugas internasional.
Kapal tersebut beroperasi di Laut Adriatik untuk memberikan dukungan operasional dan logistik dalam rangka menghadapi krisis Yugoslavia.
Posisi geografis Italia menjadikan Laut Adriatik sebagai wilayah strategis. Dengan kemampuan penerbangan dan komando yang dimiliki, Garibaldi dapat memberikan dukungan udara sekaligus menjadi pusat koordinasi operasi.
Giuseppe Garibaldi dalam Operasi Afghanistan
Salah satu catatan penting dalam sejarah kapal ini terjadi setelah serangan 11 September 2001.
Giuseppe Garibaldi ditugaskan dalam Operation Enduring Freedom.
Menurut data resmi Marina Militare, kapal tersebut menjalankan peran kapal induk sekaligus pusat komando dari November 2001 hingga Maret 2002. Dalam periode tersebut Garibaldi berlayar sekitar 20.000 mil laut selama 87 hari tanpa henti. Pesawat AV-8B yang beroperasi dari kapal turut menjalankan misi dukungan dan pengendalian akses dalam operasi koalisi terkait Afghanistan.
Pengalaman ini menjadi salah satu bukti bahwa Giuseppe Garibaldi bukan sekadar kapal simbolis. Kapal tersebut pernah benar-benar digunakan dalam operasi militer internasional.
Misi Lebanon
Pada 2006, Giuseppe Garibaldi kembali mendapatkan tugas besar.
Kapal tersebut dikerahkan ke Lebanon dalam rangka Operation Mimosa dan kemudian Operation Leonte.
Garibaldi berfungsi sebagai pusat komando dan mendukung berbagai kegiatan operasi, termasuk pengamanan konvoi serta proses pendaratan pasukan Italia di Lebanon Selatan.
Marina Militare mencatat kapal ini berperan dalam operasi yang melibatkan sekitar 1.000 personel Italia dari berbagai unsur militer.
Operasi Libya 2011
Karier operasional Giuseppe Garibaldi berlanjut hingga 2011 ketika krisis Libya terjadi.
Kapal ini ikut dalam Operation Odyssey Dawn dan kemudian Operation Unified Protector.
Dalam operasi tersebut, Garibaldi menjalankan fungsi pendukung sekaligus pusat komando pada periode tertentu.
Dengan demikian, sejarah Giuseppe Garibaldi mencakup Somalia, kawasan Balkan, Afghanistan, Lebanon hingga Libya.
Modernisasi dan Perubahan Fungsi
Selama lebih dari tiga dekade, kapal ini mengalami berbagai pembaruan.
Salah satu modernisasi penting dilakukan pada 2003. Beberapa sistem persenjataan dan perlengkapan kapal disesuaikan dengan kebutuhan operasional.
Dalam perjalanan berikutnya, Garibaldi juga mengalami perubahan konfigurasi sehingga semakin menekankan kemampuan sebagai kapal pengangkut helikopter dan pendukung operasi amfibi.
Namun usia kapal terus bertambah.
Dibangun pada awal 1980-an, Giuseppe Garibaldi pada 2026 telah berusia lebih dari 40 tahun.
Inilah salah satu alasan mengapa Indonesia harus melakukan retrofit dan penyesuaian sebelum kapal digunakan secara penuh.
Mengapa Giuseppe Garibaldi Diberikan kepada Indonesia?
Giuseppe Garibaldi resmi memasuki fase akhir masa dinas Italia pada 2024.
Italia kemudian menghadapi pilihan: mempertahankan kapal tua tersebut dalam status cadangan dengan biaya pemeliharaan, membongkarnya, atau menyerahkannya kepada negara lain.
Indonesia kemudian muncul sebagai calon penerima.
Proses politik dan administratif berlangsung selama 2026. Parlemen Italia menyetujui mekanisme pengalihan kapal tersebut kepada Indonesia.
Yang menarik, Indonesia tidak membeli Giuseppe Garibaldi dengan harga puluhan juta euro.
Skema yang digunakan adalah hibah antarpemerintah.
Komisi I DPR RI pada 20 Juli 2026 menyetujui penerimaan hibah kapal tersebut. Nilai yang tercatat dalam dokumen hibah adalah 54.022.426,67 euro. Nilai tersebut merupakan nilai aset atau estimasi nilai kapal dalam proses hibah, bukan harga pembelian yang dibayar Indonesia kepada Italia.
Dokumen parlemen Italia juga menjelaskan bahwa pengalihan dilakukan secara gratis dan nilai kapal diperkirakan sekitar €54,02 juta. Italia juga dapat menghindari biaya pemeliharaan kapal dalam status cadangan yang pada 2025 diperkirakan sekitar €5 juta per tahun.
Jadi, jika muncul pertanyaan “Indonesia membeli Giuseppe Garibaldi dengan harga berapa?”, jawaban yang paling tepat adalah:
Indonesia tidak membeli kapal tersebut dengan skema jual beli. Indonesia menerimanya melalui hibah dari pemerintah Italia, dengan nilai aset yang tercatat sekitar €54,02 juta.
















