Papua1.com, Ambon – Gereja Protestan Maluku (GPM) tengah berduka cita atas kepergian salah satu tokoh pelayanan paling berpengaruh, Pendeta C.W. Ririhena, SmTh. Sosok yang akrab disapa “Bapak Cor” ini dikenal sebagai penggegas inisiatif pelayanan inovatif di berbagai kota Maluku, meninggalkan warisan abadi bagi jemaat di tengah tantangan pasca-konflik yang masih membayangi wilayah timur Indonesia.Pendeta Ririhena memulai perjalanan pelayanannya di GPM sejak awal 1980-an, menjabat di sejumlah jemaat kunci.
Catatan sejarah dari Jemaat GPM Silo mencatat bahwa ia bertugas di sana dari 1 November 1983 hingga 1 April 1992, memimpin program rohani dan sosial yang progresif. Di bawah kepemimpinannya, ia berhasil membangun jembatan antar-jemaat, khususnya di Ambon dan sekitarnya, dengan penekanan pada pendidikan teologi serta dukungan bagi masyarakat adat Maluku.
Baca juga : Pelayanan Kesehatan Terpadu Jemaat di GPI ELIM Abepura Papua
Aktivitas ekumenisnya juga menonjol, di mana ia berkolaborasi dengan gereja-gereja lain untuk mengatasi konflik sosial dan memulihkan komunitas pasca-kerusuhan 1999-2002.Peran strategis Ririhena dalam struktur GPM tak terbantahkan.
Arsip Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) menyoroti kontribusinya melalui wawancara dan diskusi tentang peran pendeta di masyarakat Maluku, di mana ia selalu menekankan pelayanan yang terintegrasi dengan budaya lokal. Selain itu, namanya tercatat sebagai saksi kunci dalam putusan Mahkamah Agung tahun 1998 terkait isu pelayanan gereja, mencerminkan dedikasi tak kenal lelahnya.
Dalam GPM, ia menjadi pelopor model pelayanan indigenous, yang memadukan nilai Kristen dengan tradisi Maluku seperti upacara adat dan pendidikan berbasis komunitas.Kepergian Pendeta Ririhena, yang diduga akibat komplikasi kesehatan mendadak, belum diumumkan secara resmi oleh sinode GPM. Namun, berita ini telah menyebar luas di kalangan jemaat, mengingat posisinya sebagai koordinator majelis minggu dan penatua sektor di berbagai unit gereja.
Seorang rekan pendeta yang memilih anonim berkata, “Beliau adalah penggegas yang selalu mendorong kami keluar dari zona nyaman, terutama di pelayanan kota Maluku yang penuh dinamika.”
Kontribusinya juga selaras dengan persiapan GPM menyambut peringatan satu abad pada 2035, termasuk diskusi teologis tentang penyertaan Tuhan dalam sejarah Maluku.Kehilangan ini mengingatkan pada tantangan berkelanjutan yang dihadapi GPM di Maluku, yang mencakup wilayah pelayanan luas di Ambon, Haruku, dan Tanimbar.
Gereja ini terus bergulat dengan pemulihan pasca-konflik serta penguatan identitas eklesiologi. Ririhena aktif terlibat dalam upaya tersebut, melalui karya tulis dan seminar yang mendorong peran perempuan dalam pelayanan, seperti yang tercermin dalam arsip Universitas Gadjah Mada.Sinode GPM mengumumkan upacara penghiburan di Ambon minggu ini, diikuti doa bersama untuk keluarga almarhum.
Jemaat didorong melanjutkan warisannya dengan pelayanan inklusif dan berbasis komunitas. Kepergiannya bukanlah akhir, melainkan inspirasi bagi generasi muda GPM untuk terus menggegas pelayanan di tanah Maluku yang sarat sejarah rohani.(sumber : dari arsip gereja dan universitas terkait)
Kontributor:Papua1.com
















