Papua1.com – Timur Tengah. Situasi perang Israel Gaza 2025 kembali memanas. Serangan udara besar-besaran Israel mengguncang Jalur Gaza pada Senin, 6 Oktober 2025, hanya beberapa jam sebelum delegasi kedua pihak dijadwalkan bertolak ke Kairo, Mesir, untuk menghadiri pembicaraan gencatan senjata yang diinisiasi oleh Amerika Serikat.
Menurut laporan dari Al Jazeera dan Reuters, sedikitnya 24 warga Palestina tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat serangan udara yang menargetkan kawasan padat penduduk di Gaza Tengah dan Gaza Utara. Serangan tersebut juga menghancurkan sejumlah bangunan tempat tinggal, sekolah darurat, dan klinik kecil yang sebelumnya digunakan untuk menampung pengungsi.
Israel Serang Gaza Hari Ini: “Operasi untuk Menekan Hamas”
Militer Israel (IDF) dalam pernyataannya mengklaim bahwa serangan udara itu merupakan bagian dari “operasi untuk menekan kekuatan militer Hamas” menjelang negosiasi gencatan senjata. “Kami menyerang sejumlah lokasi penyimpanan senjata dan terowongan bawah tanah milik Hamas. Semua target telah diverifikasi secara intelijen,” kata juru bicara IDF, Letkol Daniel Hagari.
Namun, Kementerian Kesehatan Gaza menyebut serangan tersebut tidak hanya mengenai sasaran militer, tetapi juga menewaskan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. “Israel kembali melanggar hukum internasional dengan menyerang pemukiman sipil tanpa pandang bulu,” ujar pejabat kementerian, Ashraf al-Qudra.
Serangan udara kali ini terjadi di tengah upaya Amerika Serikat untuk mendorong penerapan rencana perdamaian 20 poin yang dirancang oleh Presiden AS saat ini, Donald Trump. Rencana itu diharapkan dapat mengakhiri perang yang telah menewaskan lebih dari 45.000 orang Palestina sejak Oktober 2023.
Rencana Perdamaian : Antara Harapan dan Ketegangan Politik
Menurut sumber diplomatik di Kairo, pertemuan yang dijadwalkan minggu ini akan melibatkan perwakilan dari Israel, Hamas, Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat. Tujuan utama adalah mencapai kesepakatan awal mengenai gencatan senjata jangka panjang, pembebasan sandera, serta mekanisme bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza.
Namun, hambatan utama masih muncul pada dua isu krusial:
- Penarikan pasukan Israel dari Gaza – Israel enggan mundur sepenuhnya sebelum “struktur militer Hamas dibongkar”.
- Kendali administratif atas Gaza – Hamas menolak jika wilayah tersebut akan dikendalikan oleh pihak lain atau pemerintah sementara yang ditunjuk dari luar Palestina.
Sumber diplomatik Mesir menyebut bahwa “rencana Trump” menawarkan pembagian tanggung jawab antara PBB, Mesir, dan Otoritas Palestina untuk mengelola Gaza sementara. Namun, Hamas belum memberikan tanggapan resmi apakah mereka akan menyetujui mekanisme tersebut.
Hamas Siap Lepas Sandera, Tapi…
Dalam sebuah pernyataan yang dikutip Reuters, juru bicara Hamas, Osama Hamdan, mengatakan kelompoknya bersedia melepas sandera sebagai bagian dari kesepakatan perdamaian, dengan syarat Israel menghentikan serangan udara dan membuka akses penuh bantuan kemanusiaan ke Gaza.
“Kami tidak menolak perdamaian, tapi kami menolak penjajahan,” ujarnya. “Jika Israel benar-benar ingin gencatan senjata, mereka harus mundur dari Gaza dan menghentikan blokade yang membuat rakyat kami kelaparan.”
baca juga : Yalimo rusuh lagi
Israel menanggapi dengan hati-hati. Seorang pejabat dari kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa “tidak ada kesepakatan sebelum semua sandera kembali, dan Hamas melucuti senjatanya.”
Netanyahu Didesak dari Dalam Negeri
Di dalam negeri, Netanyahu menghadapi tekanan politik yang meningkat dari kelompok sayap kanan yang menolak kompromi terhadap Hamas. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir bahkan mengancam akan keluar dari koalisi jika perdana menteri setuju untuk menghentikan operasi militer tanpa “kemenangan total”.
Sementara itu, ribuan warga Israel menggelar demonstrasi di Tel Aviv, menyerukan pembebasan sandera dan mendesak pemerintah mempercepat kesepakatan damai. Spanduk besar bertuliskan “Bring Them Home Now” kembali memenuhi alun-alun utama Tel Aviv.
“Anak saya ditawan sejak dua tahun lalu. Kami tidak ingin perang tanpa akhir. Kami ingin mereka kembali hidup,” kata seorang ibu, Miriam Cohen, kepada media lokal.
















