Papua1.com, Jayapura – Ibadah Syukur HUT ke-75 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) yang digelar di Gereja GKI Pniel Kotaraja Jayapura, pada hari Minggu, 25 Mei 2025 lalu, adalah momen bersejarah, bukan hanya bagi gereja-gereja di Papua, tetapi juga bagi perjalanan iman umat Kristiani di seluruh Indonesia.
Perayaan ini menjadi simbol nyata kesatuan gereja-gereja lintas denominasi yang bernaung dalam semangat oikumene, sebuah semangat yang sejak awal menjadi nafas dari keberadaan PGI, kata Pdt. Ronaldly Waromi, S.Th kepada awak media di kediamannya Kamis, 29 Mei 2025
Perayaan buruk
Lebih lanjut Pdt, Ronaldly Waromi, S.Th mengatakan, sangat disayangkan, di tengah kegembiraan dan rasa syukur umat Tuhan, muncul opini dangkal dan menyesatkan yang disampaikan oleh Ketua Gercin I asal Papua, Hendrik Yance Udam (HYU), yang menyebut bahwa HUT PGI ke.75 di Jayapura adalah “perayaan paling buruk dalam sejarah PGI.” Pernyataan ini tidak hanya mengabaikan fakta, namun berpotensi memecah persaudaraan umat dan mencederai nilai-nilai oikumene yang murni.
Baca juga : Ketua Sayap Perempuan Papua, Tim Kerja Garuda Nusantara Provinsi Papua Dolly Rakadewa Angkat Bicara
Menjadi pertanyaan besar, mengapa HYU hanya menyoroti HUT PGI ke-75 yang penuh kasih, sukacita, dan doa, namun tidak menyentuh atau mengkritisi kegiatan lain seperti KKR “Papua Bangkit” di Istora Papua pada tanggal 24 Mei 2025 yang dihadiri ribuan orang dan tokoh nasional? Mengapa hanya gereja dan persekutuan umat yang diserang, seolah-olah PGI menjadi kambing hitam atas dinamika politik ? *Ini menunjukkan bahwa kritik tersebut bukan ditujukan demi membangun umat, melainkan demi membentuk opini negatif di tengah masyarakat. tegas Pdt Ronaldly Waromi, S.Th

Menurut Pdt. Ronaldly bahwa HUT PGI ke-75 Papua yang di Pusatkan kali ini di Gereja GKI PNIEL Kotaraja Jayapura, dan ini adalah ibadah syukur; tidak ada agenda politik, Tidak ada deklarasi partisan, dan lain sebagainya Yang ada hanyalah pujian, penyembahan, refleksi firman Tuhan, dan pernyataan iman tentang pentingnya menjaga kesatuan tubuh Kristus di tengah tantangan zaman, dan semua denominasi gereja-gereja diundang, Semua umat Kristiani diterima dangan baik, Bahkan, Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You, dan Presiden GIDI turut hadir juga sebagai bentuk kesaksian bersama dalam semangat oikumene yang sejati, Kata Pdt Ronaldly
Apakah semangat kesatuan seperti ini pantas dicap sebagai “panggung politik”? Tentu saja Tidak. Justru HUT PGI ke-75 menjadi bukti bahwa gereja-gereja di Papua mampu melampaui batas denominasi dan sekat sosial-politik demi satu tujuan yaitu menyembah Tuhan Yesus dalam kesatuan.
Sebagai seorang anak asli Papua, seyogianya HYU hadir bersama umat dan menyaksikan sendiri bahwa PGI tidak pernah kehilangan rohnya. Seandainya ia (HYU) hadir, ia tentu akan didoakan. agar cakrawala berpikir yang sempit, curiga, dan penuh prasangka bisa digantikan dengan hikmat yang datang dari Roh Kudus. PGI tidak anti kritik. Tapi kritik harus dibangun di atas fakta dan semangat kasih, bukan di atas opini pribadi yang beraroma kepentingan. ungkap Pdt Ronaldly dengan tegas!
Catatan Manis
PGI tetap berdiri di atas prinsipnya yaitu melayani semua umat tanpa membedakan latar belakang sosial, budaya,’ maupun politik bahwa, Perayaan HUT ke-75 adalah milik seluruh gereja di Papua dan Indonesia, bukan milik segelintir orang.
Mari kita rawat kesatuan ini dengan doa, dengan kerja bersama, dan dengan hikmat dari Tuhan, Karena di mana ada kasih, di situ Allah hadir.* Dan di mana ada kesatuan umat, di situ tanah dipulihkan.
Ter’iring salam dan doa dari Saya Pdt. Ronaldly Waromi, S.Th buat Saudara, HYU Terkasih. Tuhan Yesus Memberkati.
Pewarta : Vicky Ririhena
















