PAPUA1.COM – Film Pesta Babi terus menjadi perhatian publik meskipun sejumlah agenda pemutaran bersama di berbagai daerah sempat menghadapi penolakan maupun pembubaran. Dokumenter yang mengangkat dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan itu justru semakin banyak diputar secara mandiri oleh komunitas, mahasiswa, kelompok masyarakat sipil, hingga ruang-ruang diskusi di berbagai wilayah Indonesia maupun luar negeri.
Tingginya perhatian publik terlihat dari jumlah penonton yang mencapai jutaan orang setelah film tersebut tersedia secara daring. Fenomena itu menunjukkan besarnya minat masyarakat untuk memahami berbagai perspektif mengenai pembangunan, hak masyarakat adat, dan masa depan lingkungan di Papua Selatan.
Film Pesta Babi Menjadi Ruang Diskusi Publik
Sejak mulai diputar, Film Pesta Babi berkembang menjadi salah satu dokumenter yang paling banyak diperbincangkan dalam beberapa tahun terakhir.
Berbagai kegiatan nonton bareng atau nobar terus berlangsung di kampus, sekretariat organisasi, taman baca, warung kopi, hingga komunitas diskusi independen. Jumlah pemutaran yang terus bertambah menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap isu yang diangkat dalam film tersebut.
Selain di Indonesia, pemutaran juga dilakukan oleh berbagai komunitas internasional yang memiliki perhatian terhadap isu lingkungan, hak masyarakat adat, dan kebijakan pembangunan.
Antusiasme masyarakat semakin terlihat ketika film tersebut tersedia melalui platform digital. Dalam waktu singkat, jumlah penontonnya meningkat drastis dan memicu diskusi luas di media sosial.
Di tengah tingginya minat publik, sempat muncul persoalan terkait distribusi film ketika beberapa pihak mengunggah ulang dokumenter tersebut tanpa izin resmi dari pemegang hak cipta. Meski demikian, hal itu tidak mengurangi perhatian masyarakat terhadap isi film yang menjadi bahan diskusi publik.
Fokus Cerita di Papua Selatan
Film berdurasi sekitar 1 jam 35 menit itu merupakan karya jurnalis dan dokumenteris Dandhy Laksono bersama Cypri Paju Dale.
Sebagian besar cerita berfokus pada wilayah Papua Selatan, terutama di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.
Melalui berbagai kesaksian masyarakat lokal, film ini menampilkan pandangan kritis terhadap implementasi sejumlah proyek pembangunan yang masuk dalam kategori Proyek Strategis Nasional.
Kritik terhadap PSN dan Perubahan Ruang Hidup Masyarakat Adat
Salah satu isu utama yang diangkat dalam Film Pesta Babi adalah dampak pembangunan skala besar terhadap masyarakat adat di Papua Selatan.
Film tersebut menampilkan berbagai pandangan yang menilai bahwa ekspansi perkebunan tebu, sawit, dan program food estate telah memengaruhi ruang hidup sejumlah komunitas adat seperti Marind, Awyu, Yei, dan Muyu.
Menurut narasi yang ditampilkan dalam dokumenter, perubahan penggunaan lahan dalam skala luas berpotensi memengaruhi kawasan hutan adat yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Selain aspek lingkungan, film juga mengangkat kekhawatiran mengenai keberlanjutan budaya, pola hidup tradisional, serta hubungan masyarakat adat dengan wilayah yang mereka kelola secara turun-temurun.
Para pembuat film berusaha menghadirkan cerita langsung dari masyarakat yang terdampak sehingga penonton dapat memahami berbagai perspektif yang berkembang di lapangan.
Namun demikian, pemerintah memiliki pandangan berbeda terhadap kritik yang disampaikan dalam film tersebut.
Pemerintah mengakui pentingnya kritik sebagai bagian dari evaluasi kebijakan, tetapi menolak penyamaan PSN dengan praktik kolonialisme sebagaimana disebutkan dalam sejumlah narasi yang berkembang.
Perbedaan pandangan inilah yang kemudian menjadi salah satu sumber perdebatan publik setelah film tersebut dirilis.
Polemik Mama Yasinta dan Respons Dandhy Laksono
Perdebatan baru muncul ketika nama Yasinta Moiwend atau yang dikenal sebagai Mama Yasinta menjadi perhatian publik.
Mama Yasinta merupakan tokoh perempuan adat dari Suku Marind-Anim yang selama ini dikenal aktif memperjuangkan hak masyarakat adat dan perlindungan lingkungan di Papua Selatan.
Namanya semakin dikenal luas setelah menerima penghargaan S.K. Trimurti Award tahun 2025 dari Aliansi Jurnalis Independen atas perjuangannya dalam mempertahankan tanah adat dari berbagai ancaman yang dianggap merugikan masyarakat lokal.
Belakangan, sebuah video yang beredar di media sosial menampilkan pernyataan Mama Yasinta yang mengaku kecewa terhadap pihak-pihak yang menurutnya telah melibatkan dirinya dalam gerakan penolakan food estate.
Dalam pernyataannya, ia juga mengungkapkan keberatan atas penggunaan citra dirinya dalam promosi Film Pesta Babi.
Pernyataan tersebut memunculkan beragam reaksi dari publik. Sebagian pihak mempertanyakan perubahan sikap Mama Yasinta, sementara yang lain meminta masyarakat untuk menghormati pilihan dan keputusan yang diambilnya.
Menanggapi situasi tersebut, Dandhy Laksono mengajak publik agar tidak terburu-buru menghakimi Mama Yasinta.
Menurutnya, masyarakat luar tidak mengetahui secara pasti situasi yang sedang dihadapi oleh tokoh adat tersebut di Papua Selatan.
Dandhy menegaskan bahwa setiap individu memiliki hak untuk menentukan pilihan dan sikapnya sendiri.
Ia juga meminta agar diskusi mengenai film tetap dilakukan secara sehat tanpa menyerang pribadi siapa pun yang terlibat dalam isu tersebut.
Pengakuan Mama Yasinta
Dalam keterangannya yang beredar di media sosial, Mama Yasinta menyatakan bahwa dirinya telah mengambil keputusan sendiri terkait masa depannya.
Ia mengaku ingin bekerja bersama perusahaan yang beroperasi di wilayahnya untuk membantu memperbaiki kondisi rumah yang ditempatinya.
Selain itu, ia juga menyebut sudah tidak lagi beraktivitas bersama organisasi yang selama ini mendampingi perjuangan masyarakat adat dalam berbagai proses advokasi.
Menurut pengakuannya, selama mengikuti sejumlah kegiatan ke luar daerah seperti Jayapura, Makassar, dan Jakarta, dirinya hanya menerima dukungan biaya perjalanan dalam jumlah tertentu.
Ia juga mengaku tidak menyadari bahwa keterlibatannya dalam berbagai kegiatan advokasi akan menjadi perhatian luas publik dan kemudian dikaitkan dengan produksi film dokumenter tersebut.
Pernyataan inilah yang kemudian menjadi salah satu topik diskusi utama setelah film memperoleh perhatian besar dari masyarakat.
Dampak Film terhadap Perdebatan Publik
Terlepas dari berbagai polemik yang muncul, Film Pesta Babi berhasil membuka ruang diskusi yang luas mengenai pembangunan di Papua.
Berbagai kalangan melihat film ini sebagai medium untuk mendengar suara masyarakat adat yang selama ini jarang memperoleh ruang dalam percakapan nasional.
Di sisi lain, ada pula pihak yang menilai bahwa pembangunan tetap diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mempercepat pertumbuhan ekonomi di wilayah timur Indonesia.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa isu pembangunan di Papua merupakan persoalan yang kompleks dan melibatkan banyak kepentingan.
Karena itu, diskusi yang sehat dan berbasis data menjadi penting agar setiap pihak dapat memahami persoalan secara lebih utuh.
Fakta Penting yang Perlu Diketahui












