Paua1.com – Tiom, Papua — Sebuah pesawat kargo milik Smart Air dengan nomor registrasi PK-SNA mengalami insiden tergelincir di Bandara Tiom, Kabupaten Lanny Jaya, pada Sabtu (11/10/2025) pagi. Pesawat jenis Cessna Caravan C208 itu membawa bahan makanan dan kargo dari Mimika menuju Tiom.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Pilot dan kopilot dilaporkan selamat, begitu pula seluruh muatan di dalam pesawat. Namun, insiden ini sempat menimbulkan kepanikan di sekitar bandara dan menjadi topik viral di media sosial Papua, terutama di Facebook.
Kronologi Kejadian di Bandara Tiom
Informasi awal yang diterima dari Kabid Humas Polda Papua Kombes Cahyo Sukarnito, pesawat Smart Air tergelincir sesaat setelah mendarat di landasan Bandara Tiom. Diduga, pesawat tidak mampu berhenti sempurna dan melewati batas ujung landasan.
“Posisi pesawat masih belum masuk ke area landasan pacu karena ada perbedaan tinggi tanah (trap) di ujung landasan. Hal itu menghambat proses evakuasi,” kata Kombes Cahyo dalam keterangannya kepada wartawan.
Kendati tergelincir, pesawat tidak mengalami kerusakan berat. Namun, posisinya sulit dievakuasi karena kondisi medan di ujung landasan yang menurun. Petugas bandara bersama aparat kepolisian setempat berupaya menarik pesawat dengan alat berat, namun hingga Sabtu sore, pesawat masih berada di posisi semula.
Kondisi Cuaca dan Medan Diduga Jadi Faktor
Berdasarkan laporan lapangan, kondisi cuaca di Tiom saat itu cukup cerah. Meski demikian, beberapa sumber menyebut permukaan landasan pacu Bandara Tiom sedikit licin akibat hujan malam sebelumnya.
Selain itu, topografi Bandara Tiom yang berada di daerah berbukit membuat proses pendaratan harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Landasan pacu yang pendek dan menurun di ujungnya disebut menjadi faktor risiko tergelincirnya pesawat.
Pakar penerbangan lokal, Yonas Mandacan, menjelaskan bahwa banyak bandara kecil di wilayah pegunungan Papua memang memiliki tantangan serupa.
“Bandara-bandara kecil seperti Tiom, Wamena, dan Mulia punya medan yang ekstrem. Pilot harus sangat berpengalaman karena kondisi landasan dan angin bisa berubah cepat,” ujar Yonas.
Proses Evakuasi Masih Berlangsung
Hingga Sabtu malam, proses evakuasi pesawat Smart Air masih terus dilakukan. Tim gabungan dari Polres Lanny Jaya, petugas bandara, dan teknisi Smart Air menggunakan alat berat untuk menarik badan pesawat agar kembali ke posisi aman di landasan.
Petugas menegaskan tidak ada bahan berbahaya yang bocor dari pesawat, dan area bandara telah diamankan agar tidak mengganggu penerbangan lain.
“Kita sudah pasang garis pengaman di sekitar lokasi. Evakuasi dilakukan dengan hati-hati agar pesawat tidak terguling,” ujar salah satu petugas bandara.
Tidak Ada Korban, Namun Masyarakat Sempat Panik
Meskipun tidak ada korban jiwa, warga Tiom sempat panik setelah mendengar suara keras saat pesawat tergelincir. Beberapa warga yang sedang berada di sekitar bandara langsung berlarian menjauh.
“Kami pikir pesawat jatuh, tapi ternyata hanya tergelincir. Puji Tuhan semua selamat,” kata Markus Kobak, warga Tiom yang berada di lokasi.
Berita ini cepat menyebar di media sosial. Dalam waktu kurang dari satu jam, unggahan foto dan video pesawat Smart Air di ujung landasan sudah dibagikan ratusan kali di Facebook dan WhatsApp Group komunitas Papua.
Analisis: Mengapa Insiden Seperti Ini Sering Terjadi di Papua
Insiden pesawat tergelincir bukanlah hal baru di wilayah pegunungan Papua. Medan yang berat, kondisi cuaca yang cepat berubah, serta keterbatasan fasilitas bandara menjadi faktor utama penyebabnya.
Beberapa poin penting yang menjadi catatan dari insiden di Bandara Tiom ini antara lain:
1. Kondisi Landasan Pacu
Landasan Bandara Tiom diketahui tidak sepenuhnya rata. Ujung landasan memiliki perbedaan tinggi tanah (trap) yang menyulitkan pesawat untuk berhenti sempurna. Kondisi seperti ini membutuhkan perhatian pemerintah untuk melakukan peningkatan infrastruktur penerbangan di daerah pegunungan.
2. Perawatan dan Pemantauan Rutin
Karena kondisi alam di Papua sering berubah akibat hujan, tanah longsor, dan pergeseran tanah, perawatan rutin landasan pacu harus lebih sering dilakukan.
3. Kesiapan Pilot dan Prosedur Pendaratan
Pilot yang bertugas di rute Papua harus memiliki pengalaman khusus dan latihan tambahan untuk menghadapi kondisi ekstrem. Setiap pendaratan di bandara kecil seperti Tiom membutuhkan koordinasi intens antara menara kontrol, petugas lapangan, dan pilot.
















